Bagaimana Menulis Feature


Feature bisa diartikan sebagai salah satu jenis berita yang penulisannya menggunakan gaya sastra. Bentuknya bertolak belakang dengan straight news. Bagi sebagian penulis, feature memiliki keistimewaan tersendiri. Sebab, tidak semua orang bisa menulis dengan cara ini. Selain membutuhkan ketajaman analatik, seseorang yang ingin menulis feature juga dituntut memiliki kemampuan mengembangkan pokok-pokok permasalahan yang dituangkan ke dalam tulisan.

Bila dalam penulisan straight news, model yang digunakan adalah piramida terbalik, maka dalam penulisan feature adalah sebaliknya, yaitu model piramida. Bagi penulis pemula, sering-seringlah untuk menulis feature karena ini akan sangat menunjang kemampuan Anda menulis di kemudian hari. Perbandingannya adalah, seseorang yang sudah terlatih menulis feature, biasanya akan sangat mudah menuangkan hasil report ke dalam straight news.

Beberapa poin ini adalah gambaran feature yang baik untuk dipahami:
Pertama, feature lebih banyak ditulis untuk hal-hal yang menyangkut nilai-nilai sosial, budaya, hasil peradaban, kerapkali juga ditulis dengan maksud untuk menggambarkan interaksi manusia dengan lingkungannya, hasil peradaban, atau keistimewaan sesuatu yang memiliki makna universal. Feature seperti ini dengan mudah bisa Anda dapati di surat-surat kabar nasional, bahkan lokal. Contoh: Koran Jawa Pos, atau group yang dimilikinya; hampir setiap hari menampilkan feature. Biasanya itu ditulis di halaman depan bagian bawah. Anda bisa belajar banyak tentang penulisan feature di sana. Tulisan feature juga banyak dijumpai di surat kabar nasional lainnya, seperti Kompas, Tempo, atau Republika. Silakan disimak, Ok!

Kedua, penulisan feature lebih banyak mengupas how, atau bagaimana. Ingat lagi rumus yang digunakan untuk penulisan straight news 5W+1H. Biasanya feature lebih banyak mengulas hal-hal yang bisa terekam indera. Anda bisa menulis panjang lebar dari satu karya feature saja. Semisal, Anda ingin melukiskan bagaimana kepedihan warga yang menjadi korban kebakaran di Pasar Mambo, Kota Baru, Anda tentu tidak hanya sekedar menjelaskan bagaimana para korban kebakaran itu terisak hingga berlarian di sekitar kobaran api. Tapi, lebih dari itu. Anda bisa menggali lagi bagiamana kepedihan mereka. Lagi-lagi, kunci sukses jurnalis harus Anda terapkan, yakni bertanya. Tanyakan ke mereka (korban), bagaimana susah payahnya dia mengumpulkan harta benda itu, sehingga mereka begitu shock saat menyaksikan api telah melalap semua dengan waktu yang hanya beberapa menit saja.

Semakin jauh dan dalam informasi yang Anda gali, kualitas feature akan semakin baik. Sebab, mungkin saja ada keterangan menarik dari korban yang bisa Anda angkat sebagai topik. Misalkan, ada harta benda korban yang tidak mampu dinilai dengan materi. Contoh kecil: Si korban memiliki beberapa dokumen ijazah dari SD hingga pendidikan master. Padahal, untuk mendapatkan itu ia harus menghabiskan waktu yang panjang dan perjuangan yang tidak sedikit. Lalu mungkin juga korban adalah perantauan yang tidak memiliki sanak famili sehingga tidak memiliki tempat untuk mengungsi. Anda sebagai jurnalis bisa mengupas hal-hal ringan, namun punya makna mendalam di benak para pembaca.

Ketiga, seperti disinggung di awal tulisan ini feature memiliki model piramida. Artinya, hal-hal yang tidak penting bisa Anda tuangkan di awal paragraph tulisan. Barulah mungkin Anda akan mengupas permasalahan lebih jauh. Rentetannya, hal-hal yang Anda pandang ringan, biasa, penting, hingga sangat penting. Tapi, ini tidak mutlak. Kuncinya tergantung Anda. Apa yang akan ditempatkan di awal paragraph. Satu hal yang mungkin patut diketahui bahwa feature umumnya meletakkan topik utamanya menjelang paragraph-paragraph terakhir. Jika meminjam istilah dalam bahasa Indonesia, penulisan feature menganut sistem deduksi, mengupas hal-hal umum terlebih dahulu baru ke inti persoalan.

Keempat, penulisan feature tidak dibatasi oleh waktu. Sederhananya seperti ini: Jika penulisan straight news selalu mengedepankan informasi-informasi baru atau aktual yang tempo kejadiannya baru saja berlangsung, maka tidak halnya dengan feature. Kejadian yang berlangsung sepekan atau sebulan lalu bisa saja Anda tuangkan sekarang lalu Anda terbitkan esok hari di surat kabar. Kejadian kebakaran di Pasar Mambo, Kota Baru yang berlangsung kemarin, tentu lebih tepat Anda tuangkan sebagai berita aktual atau straight news. Sebab, jika itu baru Anda sampaikan seminggu kemudian, barangkali pembaca Anda sudah meninggalkan informasi itu di tengah jalan. Kasarnya informasi Anda sudah ‘basi’. Apalagi di media cetak lain sudah jauh-jauh hari memberitakan kejadian yang sama. Pertanyaannya apakah kejadian kebakaran di Pasar Mambo, Kota Baru itu bisa dituangkan dalam bentuk feature? Jawabannya bisa. Hal yang harus Anda lakukan adalah merubah topik. Di paragraph sebelumnya, itu sudah dikupas (paragraph ke empat).

Kelima, feature umumnya sangat subjektif. Tulisan yang dituang lebih berdasarkan pemahaman, cara pandang, dan hasil penginderaan dari si penulis atau jurnalis. Makanya, tidak heran dengan topik yang sama, feature yang dihasilkan bisa berbeda antara satu penulis dengan penulis lainnya. Misalkan saja kebakaran di Pasar Mambo, Kota Baru, ada yang menuliskan featur dengan menonjolkan penderitaan para korban, namun oleh penulis yang berbeda menjabarkannya dari sisi kerusakan infrastruktur yang ditempati oleh para korban. Saran saya, sebaiknya pilih saja yang menurut Anda bagus untuk diangkat.

Keenam, sesuai dengan gaya penulisannya feature lebih identik dengan tulisan berita yang memiliki nilai sastra. Bahasanya sederhana, namun memiliki makna luas. Biasanya, penulis feature yang hebat seringkali menyelipkan kata-kata syair, seperti bulan tampak lebih redup malam itu. Ini menandakan bahwa situasi yang terjadi sedang tidak bersahabat, atau memang ketika itu bakal gelap lalu turun hujan. Bedanya di dalam feature, bait-bait syair yang dituangkan menerangkan kondisi apa adanya saat itu, tidak ditambah atau dilebihkan. Sebab, feature bukanlah fiksi seperti novel-novel yang ditulis oleh para pengarang.

Ketujuh, umumnya feature sangat spesifik. Dari beberapa fenomena yang mungkin disaksikan penulis, paling hanya satu atau dua sisi saja yang diangkat. Misalkan, penderitaan korban kebakaran di Pasar Mambo, Kota Baru. Hal-hal lain seperti bagaimana kobaran api bisa merambat dari satu rumah ke rumah warga lainnya, mungkin tidak akan disinggung atau diabaikan sama sekali. Bedanya dengan straight news penjabarannya ditulis lebih umum, sementara feature lebih spesifik dengan mengupas salah satu sisi saja, namun mendalam. Masih ada ide lagi…? Contoh feature bisa dilihat di sini.

Saya tidak menyarankan bahwa feature yang dihasilkan harus panjang, sehingga melelahkan pembaca. Tulis saja yang menurut Anda layak dikupas. Namun, jika banyak hal yang menarik dan menurut Anda itu pantas, maka tidak ada salahnya. Saya sendiri juga tidak pernah menulis feature begitu panjang, kecuali memang dipandang terlalu penting. (*)

Comments :

3 komentar to “Bagaimana Menulis Feature”
ratu said...
on 

bisa jadi wartawan sejati nech..

news said...
on 

mantap.. tips menarik

Siti Allie said...
on 

Tulisan ini sangat membantu saya, makasih banyak yah :)

Post a Comment

 

Recent Comments

Recent posts